Era digital kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Jika dulu penipuan phishing mudah dikenali lewat tata bahasa yang berantakan atau permintaan yang tidak masuk akal, kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengubah segalanya. Berdasarkan laporan dari platform keamanan siber CanIPhish dan pakar dari University of Salford, teknologi AI kini menjadi "senjata utama" bagi para penipu untuk melancarkan aksi yang lebih meyakinkan dengan biaya yang sangat murah.
Menurut CanIPhish, AI secara drastis menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan. Dengan bantuan Large Language Models (LLM), penipu dapat:
Menurut CanIPhish, AI secara drastis menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan. Dengan bantuan Large Language Models (LLM), penipu dapat:
- Menghilangkan Kendala Bahasa: Penipu lintas negara kini bisa mengirim pesan dalam bahasa Indonesia yang sempurna, tanpa kesalahan ejaan yang biasanya menjadi ciri khas scam.
- Otomatisasi Massal: Proses pengumpulan data korban yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik secara otomatis oleh AI.
- Biaya Serangan Menjadi Sangat Murah: Biaya untuk melakukan serangan spear-phishing (serangan yang sangat personal) berkurang hingga lebih dari 95%, namun dengan tingkat keberhasilan yang setara atau bahkan lebih tinggi dari manusia.
Bukan sekadar teks, University of Salford memperingatkan bahwa AI telah berevolusi menjadi bentuk yang lebih manipulatif:
- Deepfake Audio & Video
- Voice Spoofing
- Chatbot Manipulatif
Agar tidak menjadi korban, para ahli dari Salford menyarankan langkah-langkah praktis berikut:
1. Verifikasi Langsung. Jika menerima telepon mendesak dari "keluarga", tutup telepon dan hubungi mereka kembali lewat nomor resmi.
2. Pertanyaan Spesifik. Ajukan pertanyaan yang hanya diketahui oleh Anda dan orang tersebut.
3. Waspadai Urgensi. Penipu AI selalu menciptakan rasa panik agar Anda tidak sempat berpikir logis. Tetaplah tenang.
4. Perhatikan Detail. Pada video deepfake, perhatikan gerakan mata yang aneh atau sinkronisasi bibir yang tidak pas.
5. Gunakan MFA. Selalu aktifkan Multi-Factor Authentication (MFA) di semua akun, terutama perbankan dan media sosial.
6. Batasi Oversharing. Kurangi membagikan data pribadi atau rekaman suara di platform publik yang bisa diambil oleh mesin AI.
Sumber:
The 7 Most Popular AI Scams In 2026
Six tips for spotting AI scams